HOTEL AYANA BELI 3 BIDANG TANAH DARI TANAH NEGARA DI LABUAN BAJO SELUAS 30 HEKTAR

0
52
Foto
Abdul Hakim (Kasi Penkum Kejati NTT)

LIPUTAN7.NET

KUPANG – Pemilik Hotel Ayana membeli 3 (tiga) bidang tanah (3 sertifikat, red) dari tanah negara/ milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) yang seluas 30 hektar yang saat ini menjadi objek dugaan korupsi pengalihan/penjualan aset negara senilai Rp 3 Trilyun.

Demikian disampaikan Kepala Seksi Penerangan Umum (Kasipenkum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT, Abdul Hakim melalui pesan WhatsApp/WA dan telepon selulernya kepada Tim Media ini pada Sabtu (02/01/2020).

“Bahwa saksi yg (yang) sudah diperiksa diantaranya ada pihak dari Ayana (Hotel Ayana, red), iya. Karena Ayana yg juga membeli lahan tersebut 3 bidang (3 sertifikat) dan yg juga membeli dari yang mengakui pemilik tanah,” tandas Abdul Hakim.

Menurut Kasipenkum Kejati NTT itu, proses penyidikan terhadap para saksi kasus tersebut masih berlangsung, dan penyidik bekerja secara profesional dan transparan. “Tidak masuk pada hal-hal terkait pihak Ayana membeli lahan ini untuk bangun hotel? Kami tidak kesana,” jelasnya.

Abdul Hakim juga mengklarifikasi pernyataannya sendiri terkait pemberitaan tim media ini sebelumnya (02/01/2021) yang berjudul Hotel Ayana Labuan Bajo Dibangun Di Atas Tanah Negara 30 Ha.

Sebelumnya, Ia mengatakan bahwa Hotel Ayana dibangun di atas lokasi objek sengketa kasus dugaan penjualan aset Pemda Mabar/Aset Negara seluas 30 hektar.

“Kami (Humas Kejati NTT, red) pernah mengeluarkan pernyataan, bahwa Hotel Ayana yang sekarang di Labuan Bajo itu dibangun diatas lahan 30 ha. Sekali lagi itu tidak benar. Setelah koordinasi dgn (dengan) penyidik, kami terangkan bahwa Ayana juga membeli bidang tanah di lahan pemda 30 ha,” tulisnya.

Jadi, lanjut Abdul Hakim, bukan hotel Ayana yang masuk dalam lahan Pemda. “Mohon maaf sy (saya) tdk (tidak) tau (tahu) lokasinya, makanya hotel Ayana tdk (tidak) disita,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya (02/01/2021), Kejaksaan Tinggi NTTmelalui Kepala Seksi Penerangan Umum (Kasipenkum) Kejaksaan Tinggi NTT, Abdul Hakim yang dikonfirmasi Tim Media ini melalui pesan WhatsApp/WA pada Desember 2020 (Selasa, 22/12/2020) menerangkan bahwa Hotel Ayana di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dibangun di atas tanah negara (milik Pemkab Mabar, red) seluas 30 hektar yang menjadi objek kasus dugaan korupsi penjualan tanah negara/ Pemkab Mabar dengan estimasi kerugian negara sekitar Rp 3 Trilyun.

“Iya termasuk (Hotel Ayana termasuk, red) dalam 30 Ha yang milik Pemkab Mabar,” tulisnya tegas.

Kasipenkum Kejati NTT juga menerangkan bahwa pemilik Hotel Ayana telah diperiksa di Jakarta pada tanggal 8 Desember 2020 lalu. “Iya  sudah diperiksa di Jakarta,” ujarnya.

Terkait siapa nama pemilik Hotel Ayana yang dimaksudnya, Abdul Hakim mengatakan tidak mengingat nama pemiliknya siapa. “Waduh namanya sy (saya) tdk (tidak) hafal,” tandasnya.

Ditanyai lebih lanjut, mengapa tidak ikut sita jika lahan dimana Hotel Ayana itu dibangun termasuk dalam area lahan (30 hektar, red) kasus dugaan penjualan aset Pemkab Mabar/aset negara, Abdul Hakim hakim hanya menjawab, “tdk (tidak) ada sita hotel lainnya.” (LIPT7NET/tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here