Araksi Menduga : Korupsi di NTT Rugikan Negara Hingga Rp 2,5 Trilyun setiap Tahun

0
38
Foto
Ketua Araksi NTT, Alfred Baun, Saat Jumpa Pers
LIPUTAN7.NET, KUPANG – Aliansi Rakyat Anti Korupsi Indonesia (Araksi) menduga kerugian negara akibatkan korupsi di NTT mencapai Rp 2,5 Trilyun setiap tahun.
Demikian dikatakan Ketua Araksi, Alfred Baun didampingi pengurusnya dalam Jumpa Pers di Sekretariat Araksi di bilangan Oeba, Kota Kupang, pada hari Jumat lalu, 12 Maret 2019.
“Araksi menduga terjadi kerugian negara hingga Rp 2,5 Trilyun di NTT akibat korupsi. Kerugian negara tersebut terjadi di tingkat provinsi dan 22 kabupaten/kota di NTT. Estimasi kerugian setiap tahun,” ungkap Alfred Baun.
Menurut Alfred, angka tersebut merupakan estimasi kebocoran dana pembangunan berdasarkan hasil investigasi Araksi sejak perencanaan anggaran pembangunan hingga pelaksanaan anggaran pembangunan. “Dana yang dikorupsi itu berasal dari APBN, APBD NTT dan APBD  kabupaten/kota se-NTT, serta dana desa,” ujarnya.
Araksi mengindikasikan adanya mafia-mafia dana pembangunan yang telah ‘bermain’ sejak perencanaan anggaran pembangunan yang menyebabkan adanya kerugian negara tersebut.
“Ada mafia perencanaan program pembangunan, mafia tender proyek pembangunan, mafia belanja modal dan belanja barang habis pakai, mafia investasi, modal, perbankan, industri dan pertambangan.
Tingginya nilai dugaan kerugian negara akibat korupsi di NTT tersebut, jelas Alfred, harusnya dapat diminimalisir oleh para kepala daerah yang adalah putera daerah. “Pada awal kepemimpinan Pak Gub (Viktor Laiskodat, red), Araksi sangat menaruh harapan kepadanya sebagai Top Leader di daerah ini untuk dapat menekan korupsi di NTT (sesuai janji kampanye dan pidato perdana, red),” ujar mantan anggota DPRD NTT ini.
 Araksi berharap, Gubernur Laiskodat dan para bupati/walikota sebagai putera daerah dapat menekan korupsi di NTT. “Mari kita semua takut untuk melakukan korupsi. Waspada saja toh. Laksanakan UU saja toh. Tidak boleh korupsi. Kita kawal perencanaan dengan baik. Tidak boleh begini dan begitu. Itu saja kalau leader yang baik,” saran mantan wartawan ini.
Namun harapan Araksi tidak menjadi kenyataan.  “Awalnya meledak-ledak seperti kembang api. Meledak-ledak seperti petasan. Setelah petasan selesai meledak, ya habis sudah,” kritiknya.
Padahal, lanjut Alfred, saat ini masa kepemimpinan Gubernur Viktor Laiskodat hanya tinggal 2 tahun. “Apa yang sudah dihasilkan (untuk menekan korupsi, red)? Kalau meledak-ledak seperti kembang api, yah habis meledak ya habis,” katanya.
Pada kesempatan itu, Araksi juga mendesak Kapolda NTT dan Kajati NTT agar segera menyelesaikan kasus dugaan korupsi Bawang Merah Kabupaten Malaka.  “Araksi sudah berupaya mendatangkan KPK untuk kasus ini tapi prosesnya masih tersendat. Karena itu kami minta agar kasus ini segera di P-21 dan para tersangkanya ditahan,” tandas Alfred.
Selain itu, Araksi juga meminta Polda NTT segera menindaklanjuti kasus dugaan korupsi dana DAK pendidikan Kabupaten TTU senilai Rp 47,5 Milyar.
“Kami juga mendesak Kapolda NTT untuk segera menetapkan tersangka kasus dugaan korupsi Rumah Sakit Pratama Boking, Kabupaten TTS yang merugikan negara sekitar Rp 14,5 M (sesuai temuan BPK RI, red),” ucap Alfred. (L7net/tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here