Home Campursari HUTRI ke-75, Anak-Anak Dilatih Menganyam

HUTRI ke-75, Anak-Anak Dilatih Menganyam

FOTO WARGA ANYAMAN

WOLOMEZE NGADA – HUT Kemerdakaan RI ke-75 diekspresikan beragam cara. Salah satu dari banyak bentuk ekspresi ditunjukan para pengrajin di desa Nginamanu Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada. Mereka memanfaatkan momen HUT Kemerdekaan untuk melatih anak-anak menganyam.

Mama-mama pengrajin yang guyup dalam Sanggar ‘Subi Nana’ ini, prihatin budaya menganyam bakal lenyap, jika tidak diwariskan kepada generasi muda. Karena itu tranfer skills kepada anak-anak adalah cara tepat mewariskan budaya menganyam ini.

Menganyam tidak lagi sekedar mengasilkan aksesoris untuk keperluan ritual budaya semata, tetapi kini menjadi sumber penghasilan menjanjikan. Karena itu melalui kegiatan ekonomi kreatif, ketrampilan anyaman menjadi life skill bagi generasi muda di masa depan.

Menyadari hal ini, mama-mama memamfaatkan momen HUT kemerdekaan RI untuk menyemangati dan melatih anak-anak menganyam, sembari menceritakan pengalaman masing-masing tentang manfaat menganyam saat ini.

Mama-mama sebagaimana pengakuan Paulina Nau dan Yolenta Wea – dengan menganyam sangat membantu menambah biaya kebutuhan hidup dalam keluarga.

Spirit itu yang kemudian mendorong mama-mama mengajak anak-anak, saat ada informasi tentang lomba menganyam berpasangan, yang diprakarsa sanggar ‘Subi Nana.’ Mama-mama mengajak masing-masing seorang anak dalam lomba ini, kemudian memberi tutorial tentang menganyam.

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze itu, diikuti 10 pengrajin dan anak-anak berpasang-pasangan. Para pengrajin memberi petunjuk sesederhana mungkin agar cepat dipahami. Tidak boleh mengambil alih anyaman dari tangan anak-anak yang ikut lomba itu. Namun, dapat memperbaiki bila terjadi kekeliruan menganyam.

Tampak anak-anak sangat antusias. Mungkin karena itu,  mereka sudah hadir lebih awal di tempat kegiatan dengan membawa bahan-bahan yang diperlukan bersama para pelatih mereka. Saat berlangsung kegiatan sekitar dua jam itu, anak-anak tampak bergeming.

Lindaiva, siswi kelas IV SDI Kurubhoko terlihat cepat menganyam. Dia mengaku senang sekali bisa ikut lomba. Ke depan Lindaiva berniat akan ikut terus dalam sanggar ini sehingga terus dilatih sampai bisa.

Begitu juga kesan Angelia Tanggo, siswi kelas VI SDK Tanawolo. Dia senang diajak tantenya untuk dilatih menganyam. “Saya sangat ingin supaya bisa anyam. Karena anyaman yang bagus banyak dibeli orang,” katanya.

Jika Lindaiva sering melihat mamanya menganyam bahkan mulai coba-coba, namun tidak demikian dengan Angelia. Karena itu Angelia begitu antusias diajak untuk dilatih sekalian mengikuti lomba.

Setelah berproses selama 2 jam, anyaman anak-anak yang rata-rata baru belajar itu sudah mencapai 50 persen. Itu sebabnya, diharapkan anak-anak ini akan menjadi anak asuh bagi mama-mama yang mengajak, sampai mereka mahir.

Dalam perlombaan tutorial menganyam ini anak-anak mendapat hadiah alat tulis dari sanggar ‘Subi Nana.’ Ini sebagai penyemangat bagi mereka agar terus berlatih.

Sementara salah seorang mama, Paulina Nau berkesan kegiatan ini sangat bagus, menjadi kesempatan melatih anak-anak supaya bisa anyam.

Paulina yang selama ini menjadikan kegiatan menganyam untuk mendongkrak ekonomi rumah tangga, mengatakan sudah sejak lama menekuni seni menganyam. Dia katakan, waktu kecil belajar dari para orang tua. Bahkan dulu, menganyam itu wajib dikuasai bagi remaja putri sebelum menikah. Karena dulu kebutuhan akan perlatan rumah tangga banyak terbuat dari anyaman bambu.

Senada dengan Paulina, demikian juga Rofina Mbau, sangat berterima kasih bisa ada kegiatan seperti ini. Kalau sebelumnya kita anyam sendiri-sendiri di rumah,  sekarang bisa sama-sama di sanggar sambil melatih anak-anak kita. Sesekali ketemu bisa saling tukar pengalaman. Dan melalui sanggar, kita bisa modivikasi produk sesuai permintaan pembeli.

Yang dimaksud Rofina adalah inovasi produk. Hal ini penting, agar kita tidak sekedar mewariskan apa yang biasa dilakukan orang tua dulu, tetapi juga akan terus berkembang sesuai dengan tuntutan pembeli di era moderen.

Refleksi Memerdekaan RI

Koordinator sanggar ‘Subi Nana,’ Emanuel Djomba, mengatakan kegiatan ini sebagai suatu refleksi atas HUT Kemerdekaan RI ke-75. Dari tahun ke tahun kegiatan sama melulu, maka kali ini kita buat beda. Mengisi momen ini dengan sesuatu yang edukatif sekaligus menanamkan nilai dan keatifan bagi anak-anak.

Selain itu, kata Emanuel, di tengah pandemi covid dimana kondisi ekonomi sedang lesu, kita ingin terus  menumbuhkan kewirausahaan berbasis rumah tangga, agar bergairah kembali. Karena selama ini, seni menganyam yang mengasilkan berbagai produk kebutuhan, seperti tas bagi pria dan wanita, dompet dan aksesoris lainnya menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga-keluarga di desa ini.

Saat pandemi covid ini, tambah Emanuel, kita tetap harus berproduksi. Selain itu, kita manfaatkan ruang dimana anak-anak lebih banyak waktu di rumah dengan kegiatan bernilai. Tentu saja melalui latihan seperti ini, akan ada transfer skill dan nilai,  yang memberi manfaat bagi masa depan anak. Ada semacam upaya pewarisan sehingga budaya menganyam tidak lenyap pada generasi mendatang. Selain itu juga mampu meningkatkan pendapatan ekonomi.

Bagi anak-anak, kegiatan menganyam dapat membantu perkembangan motorik, membentuk karakter dan merangsang kemampuan berpikir. Selain ada ruang edukasi dimana anak mengetahui manfaat dari menganyam – tidak  saja memenuhi kebutuhan ritual tetapi dalam modivikasi produk, juga memberi manfaat ekonomi.

Ada juga manfaat yang tidak kalah pentingnya bagi kelestarian alam, yakni manfaat ekologis. Bahan baku yang diperoleh dari alam menunut kita senantiasa menjaga alam (bambu) agar tidak punah yang disebabkan oleh kebakaran hutan.

Secara filosogis menganyam memberi nilai bagi kehidupan. Dalam menganyam kita menggunakan bahan berbeda ukuran dan kelenturan, namun setelah ditautkan menghasilkan produk yang kokoh, dan bernilai estetis untuk berbagai keperluan.

Ini memberi makna bahwa kehidupan satu sama lain dalam komunitas terkecil maupun suatu bangsa yang besar membutuhkan tautan dari banyak orang dengan kapasitas berbeda-beda. Semua bersinergis membangun dari perbedaan tetapi menghasilkan suatu kekuatan. Kehidupan harmonis dan kuat haruslah dirajut menjadi utuh seperti halnya anyaman.

Dalam semangat HUT Kemerdekaan RI ke-75, tentu menjadi momentum bagi kita untuk selalu merajut dan menganyam perbedaan dalam wadah NKRI menuju kesejahteraan. Yang mulai koyak kita sulam dan rajut lagi.

Kalau dalam bahasa lokal Nginamanu ‘Subi Nana’ berarti menyulam dan menganyam.  Hidup yang belum mencapai kesejahteraan dan kesempurnaan haruslah terus disulam dan dirajut dengan tiada jemu-jemunya. (L7-K/EM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terkait

Lewat ke baris perkakas